Mengenal Linto dan Dara Baro dari Aceh

0
5745
(Foto : www.adindut.com)

Blogger Bello.id – Kesibukan sudah terlihat selepas subuh tadi, beberapa ibu hilir mudik di dapur menjalankan perannya masing-masing.

Memasak dan membuat kudapan tentu saja menjadi kegiatan utama, berusaha untuk menyajikan hidangan terbaik bagi tamu-tamu yang akan hadir nanti.

Ada pula ibu yang membersihkan lantai rumah lalu mengelar karpet dan tikar, membuka beberapa jendela serta pintu yang membuat hawa segar seketika memenuhi ruangan.

Sementara aku, lebih memilih berada di luar rumah. Membantu para pria merapihkan letak kursi tamu dan membersihkan sudut-sudut halaman yang kotor.

Tampak seorang pria muda sibuk mengangkut air dari sumur ke dapur, ada yang membereskan peralatan katering dan menatanya di tempat-tempat yang telah disiapkan.

Tampak pula seorang bapak yang sibuk menyetel peralatan pelantang suara, suara bapak tersebut dominan kami dengar pagi itu. “Tes..tes..satu..dua..tiga..percobaan”, begitu ucapnya berulang-ulang.

Hari itu akan menjadi hari yang melelahkan. Semua sibuk, namun terlihat bahagia. karena hari itu adalah hari yang istimewa.

Agustus 2015. Dalam sebuah perjalanan dari Medan menuju Banda Aceh aku sempatkan untuk mampir dan bermalam di rumah seorang teman yang berada di kota Lhokseumawe.

Aku senang saat mengetahui bahwa temanku yang juga bekerja dan tinggal di Jakarta tersebut, sedang berada di Lhokseumawe untuk menghadiri pernikahan adiknya.

Perjalananku menjadi lebih berwarna, tidak hanya Banda Aceh dan Sabang yang dapat kusambangi, tetapi juga Lhokseumawe.

Menjelang resepsi, sanak keluarga pengantin wanita bersiap menyambut kedatangan rombongan pengantin pria. Permadani berwarna merah telah digelar, di atasnya telah bersiap pula lima orang penari Aceh yang akan menjadi bagian dari prosesi penyambutan.

(Foto : www.adindut.com)
(Foto : www.adindut.com)

Linto (sebutan pengantin pria Aceh) tampak gagah dalam balutan busana hitam dengan sulaman berwarna emas.

Rencong yang merupakan senjata khas Aceh terselip kokoh di kain sarung yang terlipat pada pinggang.

Linto tampak semakin gagah dengan Kupiah Meukeutop yang merupakan penutup kepala khas yang sudah menjadi warisan tradisi turun temurun masyarakat Aceh.

Kegagahan Linto tentu seimbang dengan keelokan Dara Baro (sebutan pengantin wanita Aceh), mulai dari Culok Ok (tusuk sanggul) tiga tingkat yang dipadukan dengan rangkaian bunga mawar berwana merah jambu, baju adat berwarna merah dan aneka perhiasan serta goresan tinta daun inai (pacar) yang terlukis indah pada lengan Dara Baro.

Tidak lama kemudian, alunan musik khas mengalun syahdu. Para penari mulai melakukan gerakan tarian tradisional Aceh, tari Ranup Lam Puan namanya.

Sebuah tarian yang menggambarkan keramah tamahan tuan rumah dalam menyambut tamu.

Tarian yang memadukan gerakan memetik, membungkus dan menghidangkan sirih kepada tamu sebagai rasa hormat seperti kebiasaan yang ada pada masyarakat Aceh sejak dahulu kala.

Dalam bahasa Aceh sendiri, Ranup dapat diartikan sirih, Lam artinya dalam, dan Puan berarti tempat sirih khas Aceh.

Salah satu artikel kebudayaan mengatakan bahwa dalam masyarakat Aceh, sirih dan puan adalah perlambang kehangatan persaudaran.

Selain sebagai hidangan penyambut tamu, ranup atau sirih mempunyai peran yang penting dalam kegiatan adat masyarakat Aceh, sehingga selalu ada dalam berbagai prosesi mulai dari pernikahan, khitanan, hingga prosesi pemakaman.

Saat Linto dan Dara Baro berjumpa, semesta tersenyum kepada mereka. Terucap janji sehidup semati, arungi samudera rumah tangga dengan iringan ribuan kebahagiaan.

Ingin tahu kisah selengkapnya? Baca di sini.

Blogger : Adi Nugraha (www.adindut.com)