Timah dan Sejarah Pulau Bangka

0
1783
(Foto : Bello.id/Nisa)

Bello.id – Sejarah Pulau Bangka memang tidak dapat dipisahkan dari sejarah timah di Indonesia. Nama ‘Bangka’ sendiri konon berasal dari kata Wangka yang berarti timah.

Memang, timah begitu melimpah di Pulau Bangka hingga seolah-olah timah merupakan tanah yang membentuk Pulau bangka. Bahkan konon beberapa orang mengatakan di bawah Museum Timah sendiri masih terdapat kandungan timah.

Meski kejayaan penambangan timah sudah berlalu, namun sejarahnya masih menarik untuk dipelajari, karena sekali lagi, memahami sejarah timah tidak dapat dilepaskan dari sejarah Pulau Bangka.

Penambangan timah di Pulau Bangka diperkirakan telah dimulai sejak abad ke-5, dibuktikan dengan ditemukannya linggis kayu untuk membuat sumur penggalian timah yang diperkirakan berasal dari masa tersebut.

Linggis kayu ini ditemukan di tambang kuno di kawasan Penagan, dekat Kota Kapur. Pencucian pasir timah pada masa itu masih sangat sederhana, yaitu menggunakan batok kelapa dan dulang kayu.

Penambangan timah kemudian semakin berkembang setelah didatangkannya orang-orang suku Tionghoa Hakka dari Guangdong sekitar abad 18, yang terkenal keahliannya dalam pekerjaan pertambangan.

Mereka memperkenalkan beberapa teknologi baru penambangan timah, antara lain alat bor tusuk yang dinamakan Ciam atau Chinese Stick serta pompa Cina atau Chincia. Kini, teknologi penambangan timah semakin berkembang hingga dilakukan penambangan timah di lepas pantai dengan Kapal Keruk yang sudah dimulai sejak 1910 di pantai Dabo Singkep.

Di samping memperkenalkan sejarah timah, museum ini juga memperkenalkan manuskrip awal penulisan sejarah Bangka yang ditulis oleh Haji Idris, seorang guru di Muntok pada 1861.

Selain itu, di museum ini juga dijelaskan mengenai prasasti Kota Kapur yang dikenal dengan nama Mukha Asin atau dalam bahasa China disebut Mo-Ho-Hsin. Prasasti ini didirikan pada masa Kerajaan Sriwijaya di Kota Kapur, Pulau Bangka.

Museum timah didirikan dengan tujuan utama yaitu memperkenalkan sejarah pertambangan timah di Bangka Belitung oleh PT. Tambang Timah (Persero) Tbk. Meski sudah didirikan pada 1958, namun museum ini baru diresmikan tanggal 2 Agustus 1997 dan kemudian mengalami renovasi pada tahun 2010, karena meningkatnya jumlah kunjungan ke museum ini.

Pada Agustus 2012 saja, jumlah pengunjung mencapai 433 orang. Museum timah yang ada di Pulau Bangka ini merupakan satu-satunya museum timah yang ada di Asia, yang semakin menjadikan museum ini sebagai destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.

Terlebih lagi, museum ini menempati sebuah gedung bersejarah yang awalnya merupakan rumah dinas rumah dinas pejabat dari perusahaan tambang asal Belanda, Banka Tin Winning (BTW). Gedung ini juga sempat digunakan untuk perundingan antara Pemerintah Belanda dan UNCI (United Nations Commission for Indonesia) yang kemudian melahirkan perjanjian Roem-Royen pada 7 Mei 1949.

Mengunjungi museum ini, kamu tidak akan dikenai biaya apapun alias gratis. Museum ini buka setiap hari kecuali hari Jum’at (libur), mulai pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB. Jadi tunggu apa lagi? Yuk liburan ke Bangka!