Berkenalan dengan Suku Lom, Suku Pedalaman Pulau Bangka

0
8467
(Foto : indonesia.travel)

Bello.id – Jika di Kalimantan terdapat suku Dayak, Banten memiliki suku Baduy, atau Jambi yang memiliki suku Anak Dalam, Bangka pun tak mau ketinggalan dengan suku Lom-nya.

Suku Lom tinggal di Dusun Air Abik dan Dusun Pejam di Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ada beberapa versi yang menjelaskan mengenai asal-usul suku Lom.

Ketua Lembaga Adat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sulaiman memperkirakan bahwa Suku Lom  berasal dari Pulau Jawa dan merupakan keturunan Kerajaan Majapahit.

Mereka melarikan diri karena tidak mau menerima Agama Islam yang masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit pada sekitar abad ke 16 M.

Versi lainnya, yaitu menurut Wily Siswanto, budayawan muda di Pangkal Pinang, Suku Lom berasal dari sekolompok orang Vietnam yang pada sekitar abad ke-5 M mendarat lantas menetap di kawasan Gunung Muda.

Versi ini hampir senada dengan versi Olaf H. Smedal, seorang antropolog asal Norwegia yang melakukan observasi langsung dengan tinggal bersama orang-orang suku Lom selama beberapa tahun di sekitar 1980-an.

Bedanya, versi Olaf menyebutkan bahwa kelompok orang Vietnam tersebut terdampar (bukan sengaja mendarat) di Pantai Tanjung Tuing sekitar abad 14 M. Ada satu legenda lain yang menurut Olaf masih dipercaya orang-orang Suku Lom sampai sekarang.

Legenda tersebut mengatakan bahwa Suku Lom merupakan keturunan seorang lelaki dan perempuan yang secara misterius muncul pasca banjir besar di Bukit Sumedang, Belinyu.

Selain ketiga versi tersebut, ada versi lain lagi menurut tokoh Dusun Mapur, Akek Belalang.  Versi ini mengatakan bahwa Suku Lom merupakan sekolompok orang dari Kerajaan Sriwijaya yang berhasil kabur dari ancaman hukuman mati karena mereka mengidap penyakit semacam lepra.

Kapal yang mereka gunakan untuk melarikan diri terdampar di Pantai Tanjung Tuing. Karena merasa masih belum aman dari kejaran pengawal kerajaan yang melakukan penangkapan terhadap orang-orang penderita lepra, mereka kemudian terus bergerak hingga ke pedalaman Desa Gunung Muda, lantas membangun perkampungan di sana.

Nama Suku Lom sendiri berarasal dari kata ‘Lom’ yang artinya Belum. Nama ‘Lom’ diberikan pada suku ini karena suku ini belum menganut agama tertentu. Pada kartu tanda penduduk mereka, kolom agama ada yang dibiarkan kosong, namun ada pula yang diisikan agama tertentu sebagai formalitas belaka.

Meski demikian, dalam keseharaiannya mereka sangat menjunjung hukum adat mereka dengan tidak mengganggu orang lain dan alam semesta. Mereka percaya bahwa setiap bagian dari alam semesta mempunyai roh yang mengawasi manusia dan perbuatannya, yang apabila tidak dihargai akan mendatangkan bencana.

Masyarakat adat Suku Lom memiliki adat yang cukup unik.  Mereka memiliki berbagai mantra yang antara lain dipercaya mampu menjaga ladang dari tindak pencurian, menghipnotis orang agar mau mengakui perbuatan jahat yang telah dilakukannnya, menjaga keharmonisan rumah tangga, hingga membuat lawan jenis jatuh cinta.

Namun mantra-mantra tersebut umumnya hanya dikuasai oleh dukun adat.Selain mantra, mereka juga mempunyai pantangan yang cukup unik bagi anggota keluarga yang meninggal.

Jenazah tidak boleh diantar melalui pintu depan, melainkan melalui pintu belakang atau jika tidak mempunyai pintu belakang, maka mereka harus menjebol dinding rumah mereka untuk dapat dilalui untuk mengantar mayat.

Adat unik lainnya ialah jika kita mengambil hasil tanaman di halaman rumah masyarakat adat Suku Lom, maka artinya kita bersedia menikahi perawan atau bujang yang ada di rumah si pemilik tanaman.

Terkait dengan rumah, sejatinya masyarakat adat Suku Lom hidup berpindah-pindah. Namun sekitar 1973-1977, pemerintah Orde Baru membangun beberapa rumah semi permanen dalam Proyek Perkampungan Masyarakat Terasing (PKMT).

Kini, kawasan tersebut dihuni sekitar 200 keluarga. Mereka yang tinggal di perkampungan ini telah hidup menetap dan mulai terbuka dengan budaya kehidupan modern, sehingga disebut sebagai ‘Suku Lom Luar’.

Sementara beberapa masyarakat yang masih hidup berpindah-pindah dan menutup diri dari segala sesuatu yang berasal dari luar Suku mereka, disebut sebagai ‘Suku Lom Dalam’.

Mereka pindah jika ada orang luar atau sesuatu yang dianggap asing masuk ke wilayah mereka. Hal ini mungkin terkait dengan asal-asul mereka yang diduga sebagai orang pelarian, sehingga selalu menghindar dari segala sesuatu yang berbau dunia luar.

Meski demikian, sebagian warga Suku Lom kini telah memperbolehkan anak-anak mereka untuk bersekolah, meskipun jarang sekali ada yang menyelesaikan pendidikan hingga tamat Sekolah Dasar karena membantu orang tua mereka di hutan.

Masyarakat adat Suku Lom masih menganggap pendidikan hanya akan mengajarkan anak-anak mereka tentang dunia luar yang penuh kebohongan dan hanya mengejar nafsu materi.