Kota Singkawang, Cerminan Akulturasi 3 Etnis di Indonesia

0
4323
Masjid Raya Singkawang (Foto : mysingkawang.com)

Bello.id – Akulturasi budaya menjadi alasan mengapa Kota Singkawang di Kalimantan Barat menarik bagi siapapun yang mengunjunginya.

Ada beberapa hal yang menjadikan Kota Singkawang begitu spesial. Pertama, karena Singkawang berada dekat dengan Pontianak, dan berada di pesisir pantai sehingga geliat kegiatan perdagangan ala pelabuhan sangat terasa.

Kedua, karena di kota ini kamu bisa menemukan keragaman budaya dari tiga suku terbesar di kota tersebut yaitu suku melayu, dayak dan tionghoa yang hidup berdampingan dengan rukun.

Oleh karena itu, saat berkunjung ke Singkawang kamu bukan hanya akan disuguhi pemandangan alam, tetapi juga beragamnya wisata budaya di kota yang juga dikenal dengan nama kota seribu kuil ini.

Akulturasi Budaya di Singkawang

Vihara Tri Dharma Bumi Raya (Foto : id.wikipedia.org)
Vihara Tri Dharma Bumi Raya (Foto : id.wikipedia.org)

Suku dayak di Singkawang dan suku Melayu merupakan suku yang memang penyebarannya berada di beberapa bagian Kalimantan.

Sementara, suku Tionghoa datang ke Singkawang karena melihat potensi perdagangan dan pengembangan yang besar di Singkawang.

Posisi geografisnya yang berada di pesisir pantai dan mempunyai sumber daya alam yang melimpah menjadikan Kota Singkawang magnet yang menarik bagi para pendatang untuk tinggal dan menetap.

Menyusuri kota Singkawang, kita bagaikan melihat etalase kerukunan umat beragama di negeri kita. Kamu akan menemukan kuil-kuil berdiri berdampingan dengan gereja dan mesjid di banyak tempat di kota ini.

Julukan kota seribu kuil juga melekat pada kota ini karena banyaknya klenteng dan patung Buddha. Sangat eksotis dan oriental.

Festival Cap Gomeh

(Foto : indonesia.travel)
(Foto : indonesia.travel)

Keharmonisan akulturasi budaya di Singkawang semakin tampak kala perayaan hari ke-15 Tahun Baru China (Imlek) atau yang dikenal Cap Go Meh.

Festival Cap Go Meh Singkawang mempunyai keunikan yang tidak ditemukan di belahan dunia mana pun karena merupakan representasi dari ritual, kebudayaan, serta kesenian adat Tionghoa, yang berakulturasi dengan Dayak serta Melayu.

Di festival ini, ratusan tatung (orang yang dipercaya mempunyai kekuatan gaib) akan berbaris di jalan-jalan mengusir roh-roh jahat dengan mempertontonkan kekuatan yang tidak kasat mata, menuju altar persembahan yang megah dan khidmat.

Para tatung akan diarak menggunakan tandu dengan alas paku tajam atau pedang tajam untuk memamerkan kekebalan tubuh mereka.

Setelah itu para tatun juga akan memamerkan kekebalan tubuh dengan cara menaiki anak tangga dari pedang tajam, biasanya terdiri dari 39 dan 72 anak tangga.

Adat memamerkan kekebalan tubuh ini sudah lama dijalankan oleh masyarakat Dayak untuk keperluan ritual mereka. Ritual pengusiran roh jahat merupakan adat yang ada di suku Melayu.

Sedangkan bagi masyarakat Tionghoa lokal ini merupakan momen ziarah besar bagi leluhur, silaturahmi bagi tanah kelahiran, serta cermin dari kebesaran hati.

Karena keunikan dan kebesarannya, maka ribuan pelancong berbaur dengan segenap peziarah yang datang dari berbagai tempat untuk mengenang kembali tanah kelahiran dan memadati kota ini hingga berhari-hari.

Pasar Hong Kong

Pasar Hongkong di Singkawang (Foto : wisatasingkawang.com)
Pasar Hongkong di Singkawang (Foto : wisatasingkawang.com)

Kalau kamu ke Singkawang, kamu tidak boleh melewatkan Jalan Setiabudi. Di sini banyak terdapat toko-toko yang berfungsi seperti pasar malam yang dikenal dengan sebutan Pasar Hongkong.

Pasar ini dinamakan Pasar Hongkong karena kemiripannya dengan Hongkong, baik itu karena suasana sampai makanan-makanan yang di jajakan pun sangat terkesan oriental.

Kuliner khas Tionghoa yang dijual di pasar ini seperti Bakso, Martabak, Choi Pan, Bakmie, Kwetiau, Cap Cay hingga makananan rakyat seperti Nasi Campur Singkawang, Tahu dan Bubur Tahu khas Singkawang.

Toko-toko dan kesibukan siang hari di Jalan Setiabudi akan berubah menjadi lebih eksotis pada malam hari dengan aneka gerobak penjaja makanan berbaur dengan pasar rakyat serta pertokoan modern penjaja barang elektronik.

Suasana eksotis makin terasa dengan adanya lampu listrik dan lampion serta lampu petromak yang dinyalakan di sepanjang Pasar Hong Kong ini.

Pasar Hong Kong dan perayaan cap gomeh adalah dua hal menarik yang mencermikan akulturasi budaya yang harmonis di Singkawang. Namun Singkawang lebih dari sekedar budaya, pemandangan alamnya pun tidak kalah menarik.

Di Singkawang, kamu bisa menemukan semuanya. Mulai dari wisata budaya, alam, sampai kuliner dibungkus dengan keeksotisan suasana oriental. Sebuah destinasi wisata yang tidak boleh kamu lewatkan.

Baca juga : Mencari Ketenangan di Kota Sofifi yang Sepi