Mendaki Gunung Itu Bukan Tentang Jago-jagoan, Tapi Tentang Keamanan

0
2947
Taman Nasional Gunung Rinjani (Foto : indonesia.travel)

Bello.id – Mendaki gunung saat ini menjadi tren anak-anak muda di Indonesia. Rasanya menyenangkan kalau bisa “menaklukkan” gunung.

Namun, yang perlu kita ingat, menaiki gunung bukanlah hal yang main-main. Banyak hal yang harus dipersiapkan seperti persiapan fisik, mental, perbekalan, pengetahuan karakteristik medan yang tentunya membutuhkan biaya.

Buat kamu pendaki pemula, agak susah membayangkan apa saja yang harus dipersiapkan untuk dapat mendaki gunung dengan aman. Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan sebelum menaiki gunung, agar perjalanan kamu aman dan nyaman.

  1. Merencanakan pendakian

Sebelum melakukan pendakian, ketahui dulu informasi tentang lokasi pendakian. Mulai dari keadaan gunung, rute pendakian, jangka waktu, sampai perkiraan cuaca saat melakukan pendakian.

Kita harus mengecek apakah keadaan gunung layak untuk didaki, rute pendakian yang paling sesuai dengan kondisi fisik kita, dan apakah perbekalan yang kita bawa sudah mencukupi untuk menempuh jangka waktu yang diperkirakan.

Untuk mempermudah kamu yang pemula, pastikan paling tidak dalam satu kelompok pendakian gunung ada lebih dari satu orang yang benar-benar telah menguasai medan dan mengatahui rute dan jalur pendakian sehingga pendakian tidak akan terlalu sulit untuk dilalui.

Jangan lupa juga membuat semacam rundown pendakian, sehingga bekal serta perlengkapan yang dibawa akan menyesuaikan dengan perencanaan kita, dan bila tidak bisa tepat, setidaknya tidak akan terlalu melenceng dari perencanaan awal.

  1. Persiapan fisik

Jangan anggap enteng mendaki gunung ya. Cuaca ekstrem, jalur pendakian yang menanjak, serta tipisnya oksigen, membutuhkan stamina yang besar serta fisik yang prima untuk melaluinya.

Idealnya, persiapan fisik dilakukan 2 bulan sebelum pendakian. Persiapan fisik tidak harus mahal-mahal, cukup lari secara teratur seminggu 1-2 kali. Seandainya kita memang suka berolahraga rutin setiap minggunya, misalnya futsal, main bola, badminton, dan lainnya, maka itu sudah dikatakan cukup, yang penting konsisten.

Jangan sampai keadaan fisik kita yang belum siap merepotkan teman-teman perjalanan kita karena harus sering berhenti beristirahat, dan pada akhirnya membuat molornya waktu pendakian di luar perencanaan yang telah disiapkan.

3. Mempersiapkan peralatan

Perlengkapan hendaknya disesuaikan dengan lokasi, rute, jangka waktu, jumlah pendaki dan kondisi cuaca. Namun beberapa peralatan yang sangat penting diantaranya tas khusus pendaki (carrier), sepatu trekking, jaket, jas hujan, matras, sleeping bag, baju ganti, alat penerangan seperti senter, korek api, tenda, kantong plastik, kompor dan peralatan masak mini, alat komunikasi, tempat air, dan peralatan survival dan obat-obatan.

Oh iya, kalau bisa jangan memakai jeans ya, karena susah kering ketika basah dan berat, pakai celana lapangan atau militer yang ringan dan kuat.

Tips dalam memasukkan peralatan dalam carrier hendaknya dengan komposisi barang yang paling berat di posisi atas sedangkan barang yang lebih ringan di bagian bawah. Pengaturan ini berguna agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada di pundak, bukan di pinggang agar kita tidak cepat lelah karena menahan beban yang berat akibat kesalahan packing.

Barang-barang bawaan sbelum dimasukkan tas dibungkus dahulu dengan menggunakan kantong plastik. Tips ini untuk mencegah barang menjadi basah (berfungsi sebagai lapisan antiair) atau tercampur dengan peralatan atau pakaian kotor dan basah yang telah dipergunakan.

4. Manajemen logistik makanan

Di gunung yang tidak berpenghuni, manajemen logistik adalah segalanya. Perhitungkan lama pendakian dengan konsumsi yang kita butuhkan, karena tempat yang akan kita tuju adalah sebuah hutan di puncak gunung. Jangan sampai kita kehabisan bekal dan akhirnya kehilangan tenaga untuk melanjutkan pendakian.

Mulailah dengan membagi jenis makanan pokok yang harus dibawa kepada kelompok. Bagi siapa yang harus membawa beras, siapa yang membawa kompor, lauk pauk dan siapa yang membawa air, dengan begini beban untuk mendaki akan terasa lebih ringan dibandingkan dengan membawa logistik makanan per individu. Makanan ringan bisa dibawa pribadi per individu bila memang dirasa perlu.

Bawalah makanan praktis namun memiliki kandungan gizi tinggi, seperti tempe, tahu, sarden, kurma, dan semacamnya. Selain itu membawa gula merah atau gula jawa juga sangat baik untuk suplemen penambah tenaga. Untuk kebutuhan lainnya bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.

5. Memperoleh izin dan melapor pada pos pendakian

Sebelum melakukan pendakian di beberapa gunung, kita wajib melaporkan diri dan memperoleh izin dari pihak-pihak terkait di pos pendakian. Jangan lupa cantumkan data diri kamu yang lengkap, termasuk nomor telepon keluarga atau teman yang bisa dihubungi bila terjadi musibah di pendakian.

Jangan meremehkan langkah ini ya. Soalnya kalau ada kejadian apa-apa di pendakian, misalkan kamu hilang atau mengalami kecelakaan di gunung, petugas-petugas di pos pendakianlah yang akan pertama kali membantu kamu. Selain itu, biasanya pemerintah bila terjadi musibah di gunung, akan menjadikan data yang ada di pos pendakian sebagai sumber pertama pencarian.

Pelaporan diri ini juga berguna untuk mendapatkan info dan memastikan keselamatan kita. Biasanya bila cuaca atau kondisi di gunung sedang tidak memungkinkan untuk didaki, maka petugas yang berada di pos akan memberi tahu dan melarang kita untuk mendaki.