Festival Komodo 2018 Satukan Keberagaman Nusantara

0
725
Komodo (Gudkov Andrey/Shuterstock)

Indonesia adalah negara yang kaya akan suku dan budaya. Beragam kultur budaya nusantara ini ditampilkan dalam Festival Komodo 2018. Festival resmi dibuka, Senin (5/3/2018), di Lapangan Sepakbola Kampung Ujung, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Yang lebih hebat lagi, Festival Komodo tidak hanya menjadi replika nusantara. Keberagaman dunia juga dihadirkan. Kolaborasi budaya dari beragam etnik ini, semakin memperkuat karakter festival.

Kalau kamu mau menyaksikan Festival Komodo 2018, belum terlambat kok. Sebab, event keren ini akan berlangsung hingga 10 Maret nanti.

Sebagai destinasi wisata, Labuan Bajo sangat ramah untuk daerah lain. Mereka juga diberikan kesempatan untuk unjuk kebolehan. Ada paguyuban seni Reog Ponorogo, paguyuban Bima, Makassar, Flores Timur, dan masih banyak lagi.

“Festival Komodo ini luar biasa. Mereka memberikan ruang lebih bagi daerah lain untuk mengenalkan budayanya. Nuansa ini sangat indah. Keberagaman dan toleransi masih terawat sangat baik,” kata Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuti.

Atraksi menawan dari berbagai daerah ini terbukti mampu menyedot wisatawan. Termasuk saat Parade Patung Komodo. Wisatawan mancanegara maupun nusantara, membludak di venue festival.

“Toleransi negeri ini masih sangat tinggi. Beragam budaya bersanding saling melengkapi. Kolaborasi ini sangat bagus. Hal ini sebenarnya yang menjadi salah satu value dari festival ini. Meski begitu, daerah di sini tetap menonjolkan ciri khas Komodo,” terangnya.

Parade Patung Komodo ini dimulai dari depan Rumah Sakit Siloam. Rombongan besar mulai bergerak pukul 15.00 WITA. Para turis bahkan rela berdiri berdesakan di sepanjang jalan sambil mengabadikan momen tersebut.

Tidak sedikit pula yang selfie dan langsung meng-uploadnya ke media sosial. Yup, venue Festival Komodo memang memiliki koneksi internet sangat bagus.

Parade Patung Komodo juga menghadirkan kebudayaan lokal NTT. Yaitu tarian caci (tari perang). Tarian ini dimainkan anak laki-laki. Dengan semangat, mereka memperihatkan gerakan-gerakan berperang khas NTT.

Atraksi menawan ini disambut sangat antusias oleh wisatawan. Tak heran jika festival langsung on fire. Padahal, parade dilakukan sebelum pembukaan guys.

“Parade Patung Komodo sebelum opening ini sangat menyita perhatian. Para peserta parade ini harus diapresiasi karena berasal dari berbagai latar belakang. Seluruh unsur masyarakat Manggarai Barat ikut dalam parade ini,” lanjut Esthy.

Opening ceremony Festival Komodo jelas tidak kalah meriah. Tari Nunundake Kreasi ditampilkan. Tari ini dibawakan 80 kids jaman now asal SMP se-Labuan Bajo.

Seluruh pengunjung kemudian disajikan ritual adat Kapu Manuk. Ritual ini memakai kendi dan ayam putih sebagai simbol kesucian. Menarik guys. Turis-turis pun terkesima.

Usai ritual, penampilan selanjutnya adalah peragaan busana Paguyuban Nagekeo. Dengan kostum adat khas NTT mereka juga membawakan tari Nagekeo.

Belum selesai kekaguman wisatawan, Paguyuban Ngada langsung beraksi. Ciri khas dari paguyuban ini adalah membawa parang plus baju adat khas Ngada.

Wisatawan asal Belanda, Leo, mengaku sangat takjub dengan kekayaan budaya nusantara, khususnya NTT.

“Saya baru pertama melihat hiburan seperti ini. Sungguh festival ini luar biasa. Siapapun yang ke sini pasti akan betah. Saya sangat beruntung bisa menikmati momen ini semua,” tegas Leo.

Yang juga tidak boleh untuk dilewatkan adalah bazar kuliner. Festival Komodo menghadirkan beragam olahan pangan lokal. Favoritnya adalah kue kering dengan olahan bahan dasar jagung, keladi, dan pisang. Rasanya dijamin sangat nikmat.

Oh iya, aneka jenis tenun khas NTT tidak lupa dihadirkan. Harganya bersahabat kok. Tapi, kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai Festival Komodo sangat menginspirasi.

“Dua jempol untuk konsep festival yang dijalankan. Sangat menginspirasi sekali. Festival Komodo ini mengajarkan pada banyak hal terutama kepada generasi milenial. Keberagaman itu karunia yang harus dijaga. Sekali lagi selamat berpesta di Festival Komodo,” pungkasnya.

Sumber : Kementerian Pariwisata