Bersiap, Bau Nyale 2018 Segera Digelar

0
613
Pantai Kuta Lombok (Bello.id/Rafi)

Masyarakat Sasak bersiap merayakan upacara tradisional Bau Nyale yang setiap tahun dirayakan lima hari setelah bulan purnama pada hari ke-20 bulan ke 10 berdasarkan Kalender tradisional Sasak.

Tahun ini perayaan tersebut jatuh pada 6 Februari 2018 atau tanggal 19 Bulan Sasak dengan lokasi acara Bau Nyale akan digelar di Pantai Kaliantan, Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur (Lotim).

Pada tanggal 19 Bulan Sasak atau jatuh pada tanggal 5 Februari 2018 merupakan hari pencarian nyale yang disebut dengan pemboyak (pencarian pertama nyale), kemudian pada tanggal 6 Februari merupakan hari terakhir yang disebut dengan penumpah.

Penetapan tersebut berdasarkan rapat penentuan kemunculan nyale (cacing laut) bersama jajaran warga setempat dan tokoh masyarakat. Berdasarkan penerawangan dan ritual yang sudah dilakukan, juga posisi bintang dengan penglihatan mata telanjang.

Selain itu, juga sesuai penerawangan para orang tua dimana nyale akan keluar tanggal 19 Bulan Sasak dan berakhir tanggal 20 Bulan Sasak atau pada 4, 5 dan 6 Februari. Oleh karena itu,  panitia menetapkan tanggal 6 Februari 2018 sebagai puncak pelaksanaan kegiatan.

Festival ini juga akan menampilkan lomba tradisional seperti Bekayaq, Cilokaq, Peresean, Begambus, berbalas pantun, dan lomba mendayung perahu. Sebagai event akbar rakyat Lombok, Festival Bau Nyale juga akan menampilkan berbagai pertunjukan kesenian, seperti wayang kulit, penginang robek, dan teater legenda Putri Nyale.

Festival ini tidak hanya akan dikemas oleh suku Sasak lokal tapi juga diikuti oleh pemerintah setempat dan  tentunya wisatawan dari berbagai negara.

Selain menikmati kemeriahan warga berburu nyale, Anda juga jangan melewatkan untuk menyaksikan keseruan peresean, yaitu pertarungan adu nyali suku Sasak. Mereka bersenjatakan tongkat dari rotan (penjalin) yang bagian ujungnya dilapisi balutan aspal dan pecahan beling halus.

Ini jelasnya adalah pertunjukan adu keberanian, ketangkasan dan ketangguhan lelaki Sasak. Selain peresean, ada juga kegiatan lainnya seperti bersih pantai, pentas seni tradisional, pertujukan wayang kulit, dan lainnya.

Suku Sasak sendiri adalah kelompok etnis dominan yang mendiami Pulau Lombok, di Nusa Tenggara Barat. Bau dalam bahasa Lombok berarti menangkap dan nyale adalah sejenis cacing laut yang hanya muncul dipermukaan hanya beberapa kali dalam setahun.

Oleh karena itu, Bau Nyale adalah upacara meriah, dimana para suku sasak berramai-ramai menangkap nyale di sepanjang pesisir pantai Lombok.

Bagi warga Lombok, nyale bukan hanya cacing biasa tetapi dianggap sebagai makhluk suci yang membawa kesejahteraan bagi mereka yang menghormatinya atau kemalangan bagi mereka yang mengabaikannya.

Keyakinan ini didasarkan pada legenda Putri Mandalika. Legenda mengatakan bahwa pada masa lalu, hiduplah seorang putri cantik bernama Mandalika. Cerita tentang kecantikannya terkabar samapi ke setiap sudut pulau sehingga banyak pangeran jatuh cinta padanya dan sangat ingin menikahnya.

Untuk mendapatkannya, mereka menciptakan suatu pergolakan di seluruh pulau. Melihat kejadian ini, sang putri sedih dan merindukan perdamaian di tanahnya. Untuk mengakhiri kekacauan itu, Putri Mandalika menenggelamkan dirinya ke laut.

Saat pengikutnya mencoba untuk menemukan tubuhnya, mereka hanya menemukan cacing laut yang berlimpah yang saat ini dikenal sebagai nyale. Dengan demikian, nyale diyakini sebagai reinkarnasi Putri Mandalika. Oleh karena itu nyale yang muncul setiap tahun di pantai dianggap sebagai putri cantik yang mengunjungi bangsanya.

Bau Nyale merupakan peristiwa yang paling penting bagi masyarakat suku Sasak. Mulai dari penduduk desa, pemerintah setempat, serta wisatawan akan berduyun-duyun ke pantai melebur menjadi bagian dari tradisi kuno ini.

Inilah kesempatan untuk merasakan budaya eksotis dengan latar belakang pandangan pulau yang indah dan magis, Bau Nyale sangat layak untuk dikunjungi. Selain di Pulau Lombok, upacara Nyale ini juga dikenal di Pulau Sumba, dimana upacara tersebut diikuti oleh tradisi perang lembing berkuda, yaitu Pasola.

Sumber : Kementerian Pariwisata